pendidikan-agama-fondasi-kehidupan-anak-wmuwwfjf3f

RUMAH itu sederhana, seperti rumah-rumah di Kalisari, Jakarta Timur pada umumnya. Berdiri di gang sempit tanpa halaman luas. Hanya ada pagar kecil yang memisahkan jalanan umum dengan rumah warga. Jika ada dua motor lewat berlawanan arah, salah satu harus berhenti. Belum lagi anak-anak yang berlarian, membuat kampung ini semakin padat.

Setiap sore pukul 16.30 WIB rumah itu ramai didatangi anak-anak. Ternyata di belakang rumah mungil tersebut terdapat satu unit bangunan yang diperuntukkan anak-anak mengaji. Mereka belajar membaca Alquran dan mendalami agama bersama secara rutin.

“Saya dulu adalah seorang pekerja. Pernah bekerja di pabrik dan di mana-nama. Tetapi setelah ada kawan yang mengajak saya mengajar, saya merasa lebih nyaman. Lalu saya putuskan, saya seorang pengajar, guru, bukan yang lain,” tutur Ita Purwati, pemilik dan pendiri TPA Miftahul Jannah yang dirintisnya pada 2013 itu kepada Okezone, 29 Juni 2016.

Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang menghafal Alquran setelah memiliki dua anak. Ita tekun mempelajari agama meski usianya sudah tak muda lagi. Karena baginya tak ada kata terlambat dan hanya agama yang mampu menjadi fondasi kokoh untuk kehidupan anak kelak. Ia mencontohkan, di Jepang banyak terjadi kasus bunuh diri, karena kehidupan mereka jauh dari religiositas dan bahkan tidak mengenal agama sama sekali.

“Ibu dan bapak saya bukan orang yang berpendidikan tinggi, SR—sekolah rakyat yang setara SD—saja mereka tidak tamat. Akan tetapi, karena keduanya rajin ibadah, suka membaca, tekun mempelajari agama, Alhamdulillah semua anak-anaknya bisa dikata baik bahkan berprestasi. Nah, saya ingin anak-anak saya seperti keluarga saya dahulu,” tutur perempuan kelahiran Jakarta, 21 Desember 1973 itu.

Meski berorientasi kepada agama, Ita bersikap demokratis kepada anak-anaknya. Tidak memaksa anaknya akan sesuatu, apalagi menyuruhnya menghafal Alquran seperti dirinya. Ia beralasan, “Takut kalau dipaksa malah akan berontak.”

Hilyah, anak pertamanya, kuliah di jurusan yang digandrunginya yaitu fotografi. Ita dan suaminya tidak keberatan. Ia mendukung penuh dan bahkan memfasilitasinya dengan membelikan kamera yang cukup mahal. Meski pada akhirnya, gadis kelahiran 1996 itu memutuskan pindah kampus karena merasa kurang nyaman.

“Kata bapak dan ibu biayanya terlalu mahal, waktu kuliah kurang sesuai, pulang juga terlalu malam. Ya sudah, saya cari kampus lain saja,” ucapnya dengan santai.

Sedangkan anak kedua pasangan Ita Purwati dan Sumadi, Hilma tampak agak serius dengan gadget-nya. Diam-diam ketika menempuh pendidikan di PAUD, bocah ini pernah menjuarai lomba mewarnai se-Jakarta Timur. Ita tidak melarang anaknya bermain game dan bermain dengan anak-anak tetangga, selagi pada waktunya dan dalam kontrolnya. Ia menyadari, anak-anak seusianya merupakan masa bermain dan eksperimen. Siapa tahu dari situ, si anak memiliki kepandaian tersendiri di luar ilmu-ilmu formal.

Ketika ditanya ranking kelas, dengan pede ia menjawab, “Saya dapat ranking 16, dari 40 siswa di kelas”. Lalu ditertawakan oleh kakaknya.

“Saya punya teman, anaknya sekolah di luar negeri begitu sekolah di Indonesia tidak berprestasi sama sekali. Bisa jadi sistem pendidikan kita dengan adanya takaran ranking kurang baik. Karena tidak semua anak bisa menguasai seluruh matapelajaran, mungkin anak ini menguasai bidang ini, anak itu bidang lainnya,” ungkap Ita.

Di rumahnya terpajang beberapa piala sebagai tanda prestasi kedua putrinya itu. Hilyah sering mendapat nilai bagus ketika sekolah. Namun, ketika mendapat tawaran masuk kelas IPA ia menolak dan keukeuh masuk kelas IPS. Padahal guru-gurunya menyuruh ke IPA. Ita tidak keberatan melihat keinginan anaknya, juga tidak memaksanya masuk IPA. Karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Ada orangtua yang memaksakan anaknya masuk kelas IPA, tapi anaknya ingin IPS. Akhirnya si anak masuk IPA dan ternyata si anak stres dan tidak berprestasi lagi.”

Ibu yang pernah keliling berjualan busana ini juga mengkritik para orangtua yang menganggap pendidikan anak hanya selesai di dalam kelas. Menurutnya, pendidikan yang sesungguhnya adalah peran orangtua di dalam keluarga.

“Banyak sekali orangtua yang membebankan pendidikan anak hanya kepada lembaga, tanpa teladan orangtua. Taruhlah contohnya, anak didoktrin bahwa salat lima waktu itu hukumnya wajib. Kalau hanya sekadar tahu, tapi di rumah orangtuanya tidak salat ya anaknya juga tidak akan salat. Berbeda jika orangtua mengajak anaknya salat bersama, tanpa doktrin di sekolah pun anak tahu salat itu wajib. Alhasil,” lanjut alumnus Pesantren Kauman Remang, Jawa Tengah itu, “Satu tindakan baik orangtua jauh lebih berdampak ketimbang seratus kata-kata”.

Oleh karenanya, Ita Purwati lebih memfokuskan diri kepada agama. Ia yakin kalau orangtua baik, apalagi dibekali ilmu agama yang cukup, anak akan mengikuti orangtuanya dengan sendirinya. Maka tak heran, ia rela bangun malam menghafal ayat demi ayat Alquran hingga akhirnya berhasil mencapai cita-citanya menjadi seorag hafidzah.

Ia sempat bercerita, banyak kendala setiap menghafal kitab suci itu. Seperti kondisi ekonomi yang pas-pasan, pekerjaan rumah tangga yang menumpuk, kesehatan yang krang stabil, bahkan sang suami sempat di-PHK. Namun, ia tetap optimis bahwa setiap ada kesulitan pasti Allah memberi kemudahan.

Kini ia terdaftar sebagai pengajar akhwat di Lembaga Tahsin dan Tahfidz (LTQ) Markaz Al-Qur’an pimpinan KH Abdul Aziz Abdur Rouf, Al-Hafizh, Lc, yang tak jauh dari rumahnya. Dalam beberapa kesempatan ia juga diminta memberikan motivasi kepada anak-anak muda tentang tips menghafal Alquran, seperti di salingsapa.com.

“Banyak orang mengira saya adalah seorang ustadz, bahkan sering dimintai ceramah. Saya bilang yang bisa seperti itu istri saya bukan saya,” kelakar Sumadi, pria asal Madiun yang berpropesi sebagai sopir taksi.

Bersama beberapa kawannya, Ita Purwati mendirikan TPA di belakang rumahnya. Biayanya dari pribadi dan sebagian dari para donatur. Kini jumlah muridnya mencapai 60-an anak. Setiap minggu juga digelar pengajian khusus ibu-ibu. Sebelumnya berlokasi di Musala, dengan berbagai macam cobaan. Kini para tetangga mendukung penuh niat luhurnya dalam berdakwah dan menanamkan pendidikan agama kepada anak-anak.

“Awal saya ke sini, jangankan anak-anak mengaji, di bulan Ramadan saja jarang ada yang berpuasa, begitu pula orangtuanya. Alhamdulillah sekarang kedaan berbalik,” kenangnya sambil mengingat masa lalu yang penuh rintangan dalam berjuang.